Humor “Saudara” Madura

oleh -346 views
maqonsae humor saudara Madura

Banyak kyai-kyai Madura yang fasih dan mampu berbahasa Arab, baik yang sesuai gramatika ilmu Nahwu atau yang Bahasa ‘Pasaran’. Sebab di pondok sudah melahap semua kitab berbahasa Arab, baik Ajurumiyah, Imrithi hingga Alfiyah, atau kitab disiplin ilmu lain. Ada pula beberapa kyai Madura yang menulis kitab berbahasa Arab. Namun, beyond expectation (di luar dugaan) ada saja dari Madura yang ahli menulis dalam Bahasa Indonesia.

Mengapa jarang yang menulis dalam Bahasa Indonesia? Saya diceritakan Guru saya di LBM, KH Imam Syuhada, saat beliau menjadi juri lomba baca kitab kuning di Madura, yaitu kitab Alfiyah. Ternyata tidak ada yang mendaftar. Kyai Syuhada terkejut: “Masak di Madura tidak diajari kitab Alfiyah, padahal alim-alim dan banyak yang hafal?!” Kata kyai kelahiran Banyuwangi dengan nada tinggi.

Panitia yang juga orang Madura jawab: “Beginni kyaeh, bukannya tidak diajarri Alfiyah, tapi Tri-santri ini takut. Takut disuruh nerangkan pakai Bahasa Indonesia”. Nah, berarti kurang dibiasakan menggunakan bahasa Indonesia dalam menjelaskan keterangan isi kitab. Kalau makna ‘gandul’ di bawah teks Arab memang harus dipertahankan tetap pakai bahasa Madura.

Contoh kecil saja penggunaan kata ‘Saudara’. Terkadang orang Madura masih memahami kalimat ini sebagai kata terjemahan ‘tretan’. Padahal ‘saudara’ juga bermakna ‘kamu, anda’ dalam percakapan.

1. Ada orang Madura yang membuat paspor. Saat interview ditanya oleh petugas: “Siapa nama Saudara?” Orang Madura jawab: “Banyak Pak, saudara saya ada 5, ada Brudin, Mat Sai…” Petugas: “Stop, stop… Siapa nama kamu?” Dia menjawab: “Oh, kalau saya Dulhapid, Pak”

2. Saat di pengadilan, orang Madura jadi saksi untuk sebuah kasus. Hakim bertanya: “Saudara kenal dengan tersangka?” Orang Madura jawab: “Tidak kenal, Pak Hakim. Saya cuma kenal dia, tidak kenal dengan Saudaranya”.

Ma’ruf Khozin penikmat masakan Bebek Cabang Purnama (tapi belum pernah tahu dimana Pusatnya)

Tentang Penulis: ibnuhadi

Gambar Gravatar
Jika engkau tidak bisa menyebarkan kebaikan dengan lisan, maka sebarkanlah kebaikan melalui tulisan