Memberi Nasehat Sering Disalah Artikan

oleh
maqonsae ~ Nasehat Baik Kadang Disalah Artikan

Para pemberi nasehat yang tulus itu ternyata tak banyak. Namun, orang yang mau mendengarkan nasehat dengan tulus juga tak banyak. Yang banyak saat ini adalah mereka yang sibuk dengan urusannya masing-masing dengan tujuannya masing-masing dan untuk kebahagiaan masing-masing. Sangat jarang mereka yang peduli kepada orang lain untuk bahagia bersama-sama, keegoisan sudah merasuk kedalam relung jiwa para penduduk bumi.

Nasehat seringkali dicari hanya di ujung derita saat semua jalan kesenangannya tertutup rapat dalam gelap tanpa pelita. Nasehat yang adapun terpaksa diada-adakan kadang hanya untuk kepuasan diri, kepentingan diri pribadi, yang tak ada sangkut pautnya dengan kemaslahatan umum. Semuanya serba bermotif untuk kepentingan diri saja.
Agar nasehat tidak disalah artikan maka perlu dipikirkan kapan nasehat itu perlu disampaikan,  kepada siapa nasehat itu ditunjukkan,  dan dimana nasehat itu diucapkan.

1# Kapan Nasehat Itu Disampaikan?
Sering kita menjumpai pada seseorang ketika nasehat itu disampaikan sering disalah artikan,  ketika nasehat yang disampaikan waktunya tidak tepat,  ketika seseorang sedang marah atau emosi,  maka jangan sekali-kali nasehat itu disampaikan,  jika kita tidak ingin nasehat tersebut disalah artikan,  jika waktunya tepat maka kita tidak perlu banyak menyampaikan nasehat,  walaupun sedikit Insya Allah nasehatnya akan mengena dan bermanfaat.

2# Dimana Nasehat Itu Di Ucapkan
Ingatlah agar nasehat tidak disalah artikan bukan hanya waktunya yang perlu dipertimbangkan,  tempat juga perlu menjadi pertimbangan,  waktu yang tepat tapi tempatnya tidak tepat, nasehat yang disampaikan hanya akan menjadi prahara yang tidak berkesudahan, sampaikan nasehat pada waktu dan tempat yang tepat,  agar nasehat berbuah manfaat.

3# Kepada Siapa Nasehat Itu Di Tunjukkan
Hati-hatilah memberi nasehat,  jika salah sasaran bukan manfaat yang kita berikan,  walaupun apa yang kita sampaikan adalah kebaikan tapi jika salah orang tentu ini akan berakibat tidak baik kepada orang tersebut juga kepada kita sendiri.

Pemberi nasehat sering disalah artikan,  ketika nasehat tersebut tidak menguntungkan dirinya,  nasehat hanya dianggap disaat nasehat memberikan keuntungan, terutama untuk kepentingannya diri saja.

Bangun dan jayanya masyarakat, bangkit dan bermartabatnya sebuah bangsa sungguh ditentukan oleh komitmen bersama untuk berpikir bersama dan belerjasama untuk kebahagiaan bersama. Mereka yang culas, curang dan aniaya demi kepentingan diri dan kelompok kecilnya adalah orang yang tak layak diperhitungkan untuk menjadi tokoh dan pimpinan. Yang berhak menjadi tokoh dan pemimpin adalah mereka yang setiap siang bekerja untuk ummat dan setiap malam berdoa untuk kemaslahatan ummat.

Rasulullah Muhammad adalah teladan utama dalam hal ini. Beliau banyak memberikan nasehat dan wasiat. Namun adakah yang mau menerim nasehat dan wasiat beliau?

Tentang Penulis: ibnuhadi

Gambar Gravatar
Jika engkau tidak bisa menyebarkan kebaikan dengan lisan, maka sebarkanlah kebaikan melalui tulisan