Tidak Semua Pemukulan Guru Adalah Kriminal

oleh

Ditulis oleh Gus Hamid

ANDA PILIH MENEGAKKAN HAM (HAK ASASI MANUSIA), ATAU AKHLAK ANAK KITA BOBROK???

HAM TAK PERNAH BERBUAT APA APA KETIKA AKHLAK GENERASI BANGSA RUSAK, tetapi ketika anak dicubit untuk didisiplinkan, HAM berbicara LANTANG.

 Sebuah Pelajaran Berharga untuk orang tua / wali murid

Hakim itu mengejutkan semua orang di ruang sidang. Beliau membebaskan terdakwa kemudian meninggalkan tempat duduknya lalu turun untuk mencium tangan terdakwa.

Terdakwa yang seorang guru SD itu juga terkejut dengan tindakan hakim. Namun sebelum berlarut-larut keterkejutan itu, sang hakim mengatakan, “Inilah balasan yang harus kulakukan sebagai rasa terima kasihku kepadamu, Guru.”

Rupanya, terdakwa itu adalah gurunya sewaktu SD dan hingga kini ia masih mengajar SD. Ia menjadi terdakwa setelah dilaporkan oleh salah seorang wali murid, gara-gara ia memukul salah seorang siswanya. Ia tak lagi mengenali muridnya itu, namun sang hakim tahu persis bahwa pria tua yang duduk di kursi pesakitan itu adalah gurunya.

Hakim yang dulu menjadi murid dari guru tsb mengerti benar, pukulan dr guru itu bukanlah kekerasan. Pukulan itu tidak menyebabkan sakit dan tidak melukai. Hanya sebuah pukulan ringan untuk membuat murid-murid mengerti akhlak dan menjadi lebih disiplin. Pukulan seperti itulah yang mengantarnya menjadi hakim seperti sekarang.

Dulu, saat kita “nakal” atau tidak disiplin, guru biasa menghukum kita. Bahkan mungkin pernah “memukul” kita. Saat kita mengadu kepada orangtua, mereka lalu menasehati agar kita berubah. Hampir tidak ada orangtua yang menyalahkan guru karena mereka percaya, itu adalah bagian dari proses pendidikan yang harus kita jalani. Buahnya, kita menjadi mengerti sopan santun, memahami adab, menjadi lebih disiplin. Kita tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang hormat kepada guru dan orangtua.

Lalu saat kita menjadi orang tua di zaman sekarang tak sedikit berita orang tua melaporkan guru karena telah mencubit atau menghukum anaknya di sekolah. Hingga menjadi sebuah fenomena, seperti dirilis di Kabar Sumatera, guru-guru terkesan membiarkan siswanya. Fungsi mereka tinggal mengajar saja; menyampaikan pelajaran, selesai. Bukan mendidik.
Fungsi pendidikan sudah hilang krn tdk adanya kerjasama antara guru, orang tua dan masyarakat.

Jangan salahkan guru jika murid sekarang kurang mengerti ahlak dan hasil pendidikanya tidak seperti yg diharapkan orang tua.
Bukannya tidak mau mendidik muridnya lebih baik, mereka takut dilaporkan oleh walimurid seperti yang dialami teman-temannya.
Sudah beberapa guru di Sumatera Selatan dilaporkan wali murid hingga harus berurusan dengan polisi, di bantaeng guru disel, di jawa tengah guru Sekolah Dasar mencubit siswanya dipidanakan, semuanya atas nama HAM. Undang-undang Perlindungan Anak, tapi ketika moralitas hancur akhlak generasi bobrok pernahkan HAM dan dedengkotnya membuat aksi nyata menuntut perbaikan moral & akhlak anak bangsa? Kemana mereka saat banyak generasi bangsa ini mulai parah dan hancur?.
Wahai orang tua, kemana kewajibanmu mendidik putra-putra putrimu? Saat engkau sibuk dengan urusan duniamu engkau titip pasrahkan ke lembaga pendidikan, engkau pasrah penuh kepada guru-guru yang ada disana, tapi saat guru mendidik anakmu dengan saya dikit pemberian pelajaran dengan ‘cubitan’ engkau marah, dan melaporkan kepada aparat dengan alasan HAM. Guru juga manusia, dimana mereka bukan hanya mendidik satu anak saja, merekalah para pahlawan yang telah mengantar generasi bangsa ini menuju kesuksesan dan kebahagiaan.

Semoga tulisan ini, bagi kita para orangtua atau walimurid, bisa membangun hubungan yang lebih baik dengan guru. Kita bersinergi untuk menyiapkan sebuah generasi masa depan. Bukan hubungan atas dasar transaksi yang rentan lapor-melaporkan.
Tulisan ini bukan ditulis untuk mencari pembenaran Tapi hanya membuka fakta dan saling mengambil hikmah yang terbaik untuk kejayaan Indonesia Raya yang Berjaya dan Berdaulat.

Tentang Penulis: ibnuhadi

Gambar Gravatar
Jika engkau tidak bisa menyebarkan kebaikan dengan lisan, maka sebarkanlah kebaikan melalui tulisan